Pada hari Kamis, 6 Agustus 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan sebesar 22 poin atau 0,12 persen, menjadi Rp 17.911 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di Rp 17.933 per dolar AS. Penguatan ini diperkirakan terjadi karena adanya optimisme terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Analisis Pasar dan Harga Minyak
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini berkaitan erat dengan penurunan harga minyak mentah dunia. "Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Sejak Senin, 3 Agustus, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) yang sebelumnya ditutup di level 86 dolar AS per barel, kini sudah turun menjadi 74,60 dolar AS per barel," ungkapnya di Jakarta pada hari yang sama.
Pernyataan Menteri Keuangan AS
Seperti yang dilaporkan oleh Anadolu, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa terdapat potensi bagi AS dan Iran untuk mencapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pemulihan kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal komersial pada hari Selasa atau Rabu, 5 Agustus waktu setempat. Bessent juga menambahkan bahwa perjanjian tersebut akan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Sebelumnya, AS telah meminta Iran untuk memastikan kebebasan navigasi di jalur perairan strategis tersebut, sementara Iran menegaskan bahwa pelayaran di perairan lepas pantainya harus berada di bawah pengawasan mereka.