Fakta Ekonomi

Strategi Bank Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih tinggi, meskipun The Fed menahan suku bunga acuannya. Hal ini menjadi tantangan bagi I...

N
Narayana Putra
31 July 2026
37 pembaca
Foto: BPMI Setpres
Foto: BPMI Setpres

Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa ketidakpastian dalam ekonomi global tetap tinggi, meskipun bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Menurut Destry, sikap hawkish The Fed berpotensi menyebabkan dunia mengalami periode suku bunga tinggi yang lebih lama.

Tantangan bagi Negara Berkembang

Destry menjelaskan bahwa kondisi ini menjadi tantangan serius bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, karena dapat mempengaruhi arus modal, nilai tukar, dan stabilitas pasar keuangan domestik. "Statement dari The Fed menunjukkan mereka masih sangat berhati-hati terhadap kondisi ekonomi, walaupun mereka memutuskan menahan suku bunga. Artinya, dunia masih akan menghadapi situasi higher for longer," ungkapnya dalam sambutan daring pada acara Media Editors Gathering di Parapat, Simalungun, Sumatera Utara, pada hari Jumat (31/7/2026).

Dalam menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Strategi Menghadapi Inflasi dan Stabilitas Rupiah

Destry menambahkan bahwa tantangan utama saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi, terutama inflasi pangan yang masih di atas 5 persen, sementara inflasi inti dinilai masih terkendali. Untuk itu, BI akan mengoptimalkan instrumen moneter melalui penyesuaian imbal hasil instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang telah mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Hingga awal pekan ini, aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI mencapai sekitar 10 miliar dolar AS. Arus modal ini diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa dan mendukung stabilitas pasar keuangan domestik. Di sisi lain, BI tetap menjalankan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dengan memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Destry juga menegaskan bahwa tidak ada perubahan arah kebijakan BI setelah pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Destry, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, akan menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga proses penunjukan gubernur definitif selesai. "Kami akan tetap fokus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Seluruh instrumen yang dimiliki Bank Indonesia akan kami optimalkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi," tutup Destry.

Artikel Terkait