Jakarta - Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Presiden Amerika Serikat itu menegaskan bahwa dia tidak ingin membuang waktu untuk berurusan dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan Trump setelah serangan yang dilancarkan Washington terhadap Republik Islam Iran.
Menurut laporan yang dirangkum, setelah pernyataan tersebut, Iran merespons dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di negara-negara Teluk. "Sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir," ujar Trump saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, ketika ditanya mengenai status gencatan senjata dengan Iran. "Hanya membuang waktu berurusan dengan mereka," tambahnya.
Lonjakan Harga Minyak Dunia
Setelah pernyataan Trump, harga minyak mentah dunia langsung mengalami lonjakan lebih dari lima persen. Harga minyak mentah Brent North Sea meningkat 5,3 persen menjadi USD 78,09 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate naik 5,4 persen menjadi USD 74,23 per barel.
Trump juga menyebutkan bahwa dia akan berdiskusi dengan negosiator AS, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, yang sebelumnya terlibat dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, dia menegaskan bahwa keputusan untuk kembali ke meja perundingan sepenuhnya ada di tangan Teheran. "Sejauh yang saya ketahui, berurusan dengan mereka hanya membuang-buang waktu," tegas Trump. "Mereka pembohong," tambahnya.
Serangan Militer AS dan Tanggapan Iran
Trump menuduh Iran telah berulang kali mengingkari kesepakatan yang telah dibuat dalam gencatan senjata yang ditandatangani oleh Washington dan Teheran pada 17 Juni lalu. "Semua orang setuju, tidak ada senjata nuklir. Kita membuat kesepakatan. Mereka keluar, bercanda kepada pers, mereka mengatakan kita bahkan tidak pernah membicarakannya," ungkap Trump.
Sebelumnya, militer AS mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan operasi terbaru yang menargetkan pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal, jaringan komando, dan kapal-kapal militer Iran sebagai respons terhadap serangan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. AS melaporkan telah menghantam lebih dari 80 target terkait Iran dalam operasi yang mereka sebut sebagai "serangan dahsyat terhadap Iran untuk memberikan dampak berat."
Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah, menyatakan bahwa serangan tersebut ditujukan pada sistem pertahanan udara Iran, jaringan komando dan kendali, lokasi radar pesisir, serta lebih dari 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di sekitar Selat Hormuz.
Menanggapi serangan tersebut, IRGC melancarkan serangan balasan ke puluhan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. "Sebagai respons awal terhadap agresi ini, Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC melakukan operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 fasilitas militer AS utama di kedua negara tersebut," jelas IRGC dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB.
IRGC juga menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan "respons awal" terhadap apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata dan kesepakatan oleh AS.