Fakta Ekonomi

Inovasi Pertamina: Teknologi AI untuk Meningkatkan Hasil Tangkapan Nelayan dan Produktivitas Petani

Pertamina memperkenalkan teknologi berbasis AI yang membantu nelayan dan petani, meningkatkan efisiensi dan hasil tangkapan di Cilacap, serta mendukung pengembangan desa energi mandiri.

W
Wira Yudha
30 August 2026
28 pembaca
Foto: Pertamina
Foto: Pertamina

Bagi nelayan tradisional, melaut selalu diwarnai dengan ketidakpastian. Mereka harus mengeluarkan biaya untuk bahan bakar, serta menginvestasikan waktu dan tenaga, namun sering kali pulang dengan hasil tangkapan yang tidak memuaskan. Di Cilacap Selatan, Jawa Tengah, sekitar 41 persen dari 6.806 perjalanan melaut yang tercatat mengalami kerugian. Kondisi ini mendorong startup MetaSeaco, yang merupakan bagian dari program Pertamuda Pertamina, untuk mengembangkan teknologi bernama Iwak.

Iwak adalah sebuah sistem yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan data satelit untuk membantu nelayan menentukan waktu yang tepat untuk melaut, jenis ikan yang harus ditargetkan, serta lokasi yang potensial untuk menangkap ikan. “Dari rumah, nelayan sudah bisa mengetahui apakah hari itu sebaiknya melaut atau tidak. Jika melaut, teknologi ini juga memberikan rekomendasi titik koordinat dan waktu terbaik untuk menangkap ikan,” jelas CEO MetaSeaco, Catur Prasetyo Nugroho.

Peningkatan Pendapatan dan Efisiensi Biaya

Saat ini, Iwak telah digunakan oleh 15 perahu nelayan di Cilacap. Hasilnya, biaya operasional dapat ditekan hingga sekitar 23 persen, sementara pendapatan rata-rata nelayan meningkat sebesar 68 persen. Selain itu, perjalanan melaut yang mengalami kerugian juga berkurang dari 41 persen menjadi sekitar 30 persen.

Prediksi dari teknologi ini juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Akurasi untuk ikan tenggiri batang mencapai 91 persen, ikan bawal putih 85 persen, dan ikan layur 70 persen. Dalam salah satu perjalanan, nelayan yang mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi bahkan dapat meraih pendapatan sekitar Rp 3 juta. Dengan demikian, inovasi ini berpotensi untuk menjangkau lebih banyak desa.

Kolaborasi untuk Desa Energi Berdikari

Melalui kerjasama dengan Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina, teknologi MetaSeaco akan dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung masyarakat di sekitar wilayah operasi Pertamina. Kolaborasi ini merupakan bagian dari Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 yang diselenggarakan di Grha Pertamina, Jakarta. Pertamina berupaya agar DEB tidak hanya menjadi pusat pemanfaatan energi baru terbarukan, tetapi juga sebagai ruang untuk inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Semakin banyak teknologi tepat guna yang bisa diterapkan, tentu akan semakin bagus. Harapannya, dampak dari 269 Desa Energi Berdikari yang kami miliki bisa semakin besar,” kata Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto.

Selain MetaSeaco, inovasi juga akan diperkenalkan oleh Terangin, startup energi terbarukan yang masuk dalam Top 3 Pertamuda 2025 kategori Energy Future, di DEB Juntinyuat, Indramayu. Salah satu inovasinya adalah teknologi penghalau burung berbasis laser otomatis untuk membantu petani mengurangi gangguan hama. CEO Terangin, Muhammad Hanif, optimis bahwa penerapan teknologi ini dapat membantu petani meningkatkan hasil pertanian.

“Terima kasih kepada Pertamina dan Pertamuda yang telah memberikan berbagai dukungan, mulai dari pendanaan, mentoring, publikasi, dan banyak hal lainnya. Dukungan tersebut sangat membantu kami untuk terus berkembang dan menjadi lebih mandiri,” ujarnya.

Di DEB Nagari Katapiang, Pertamina juga bekerja sama dengan PT Global Vision Tech untuk mengembangkan rantai nilai komoditas kelapa, mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat hingga pengolahan dan penciptaan produk bernilai tambah. Bagi Pertamina, rangkaian kolaborasi ini menunjukkan bahwa inovasi tidak seharusnya berhenti pada tahap purwarupa atau memenangkan kompetisi, tetapi harus dapat diterapkan di masyarakat.

“Melalui Festival Desa Energi Berdikari 2026, Pertamina mendorong semakin banyak inovasi karya anak bangsa untuk menemukan ruang implementasinya di tengah masyarakat. Sebab, ketika energi, teknologi, dan inovasi bertemu dengan kebutuhan masyarakat, yang tumbuh bukan hanya produktivitas, tetapi juga kemandirian,” tutup Rudi.

Artikel Terkait