Fakta Ekonomi

Transformasi Ruang Kerja: Pengaruh AI dan Pola Kerja Hibrida bagi Perusahaan

Perkembangan kecerdasan buatan dan pola kerja hibrida mulai merubah cara perusahaan dalam menentukan kebutuhan ruang kantor, beralih dari kontrak sewa jangka panjang ke ruang kerja fleksibel.

U
Ulam Kirana
29 June 2026
38 pembaca
Foto: Ichsan Emrald Alamsyah/Republika
Foto: Ichsan Emrald Alamsyah/Republika

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pola kerja hibrida, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, telah mengubah cara pandang perusahaan terhadap kebutuhan ruang kantor. Sebelumnya, banyak perusahaan yang memilih untuk mengikat kontrak sewa jangka panjang, namun kini semakin banyak yang beralih ke ruang kerja fleksibel yang dianggap lebih responsif terhadap perubahan bisnis.

Lars Wittig, Senior Vice President IWG Asia Pacific, menyatakan bahwa transformasi ini bukan sekadar fenomena sementara pascapandemi, melainkan merupakan perubahan struktural yang akan membentuk masa depan dunia kerja. Ia memperkirakan bahwa dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, sekitar sepertiga ruang kerja di seluruh dunia akan beralih ke model fleksibel. "Hari ini mungkin kurang dari lima persen dari seluruh ruang kantor yang bersifat fleksibel. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, sekitar sepertiga ruang kerja akan menjadi fleksibel dalam satu bentuk atau lainnya," ungkap Lars.

Perubahan di Indonesia

Lars juga mencatat bahwa perubahan ini terlihat di Indonesia. IWG, yang mengelola berbagai merek ruang kerja fleksibel seperti Regus, Signature, HQ, dan Spaces, telah beroperasi di Indonesia selama dua dekade. Saat ini, perusahaan memiliki 56 pusat bisnis dan menargetkan untuk meningkatkan jumlah tersebut menjadi 62 lokasi hingga akhir tahun. Pertumbuhan ini mencerminkan pergeseran perilaku perusahaan dan pekerja dalam memilih tempat kerja.

Ia memberikan contoh tentang pekerja yang tinggal di daerah penyangga Jakarta yang sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk berangkat ke pusat bisnis. Dengan adanya ruang kerja fleksibel di berbagai lokasi, pekerja kini memiliki pilihan untuk tetap bekerja dalam lingkungan profesional tanpa harus melakukan perjalanan jauh setiap hari.

Dampak Teknologi dan Ketidakpastian Ekonomi

Perubahan ini juga dipicu oleh dinamika dunia usaha yang semakin cepat. Lars menjelaskan bahwa saat ini perusahaan jauh lebih sulit untuk memprediksi kebutuhan bisnis dibandingkan satu dekade lalu, dengan perkembangan teknologi sebagai faktor utama. Ia menilai bahwa kemajuan AI memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan kombinasi revolusi komputer pribadi, internet, dan telepon seluler dalam beberapa dekade terakhir. "AI membawa lebih banyak perubahan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan gabungan semua perubahan teknologi sebelumnya. Kecepatan perubahan saat ini sangat ekstrem," ujarnya.

Selain itu, perusahaan juga menghadapi berbagai ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, seperti perang dagang dan perubahan kebijakan perdagangan antarnegara. Hal ini membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang, termasuk dalam hal penyediaan ruang kantor. Lars menekankan bahwa dalam situasi seperti ini, perusahaan tidak lagi dapat memperkirakan secara akurat jumlah karyawan atau luas ruang kerja yang diperlukan dalam satu, tiga, atau bahkan lima tahun ke depan. Oleh karena itu, ruang kerja fleksibel menjadi solusi yang memungkinkan perusahaan menyesuaikan kapasitas kantor sesuai dengan perkembangan bisnis tanpa terikat oleh kontrak jangka panjang.

Fenomena ini, menurut Lars, tidak hanya terjadi di kalangan perusahaan rintisan, tetapi juga pada perusahaan-perusahaan besar berskala global. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 83 persen perusahaan yang terdaftar dalam daftar Fortune 500 telah menggunakan layanan IWG di berbagai negara. "Kalau dulu ruang kerja fleksibel identik dengan startup atau perusahaan yang sedang menguji pasar baru, sekarang perusahaan-perusahaan besar juga menggunakannya karena mereka tidak bisa lagi memprediksi masa depan dengan pasti," katanya.

Lars percaya bahwa perubahan ini akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap model bisnis yang lebih lincah. Dalam kondisi ekonomi yang berubah dengan cepat, kemampuan untuk beradaptasi menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya saing. Ia meyakini bahwa masa depan dunia kerja tidak akan lagi ditentukan oleh ukuran gedung perkantoran yang dimiliki perusahaan, melainkan oleh kemampuan organisasi untuk menyediakan lingkungan kerja yang fleksibel, kolaboratif, dan mampu mengikuti perubahan teknologi serta kebutuhan karyawan.

Artikel Terkait