Fakta Ekonomi

Trump Siapkan Strategi Ekonomi untuk Tekan Iran

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa Amerika Serikat akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran daripada melancarkan operasi militer baru. Hal ini disampaikan dalam wawancara dengan...

N
Narayana Putra
10 August 2026
24 pembaca
Foto: EPA/GEORGI LICOVSKI
Foto: EPA/GEORGI LICOVSKI

Pada hari Ahad, 9 Agustus 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan bahwa negaranya siap untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, alih-alih melakukan serangan militer segera. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara dengan Axios.

“Kami melakukannya dengan pendekatan yang tidak terlalu mencolok,” ungkap Trump kepada Axios. Ia menekankan bahwa Washington hanya melakukan negosiasi setengah hati dengan Teheran, sambil terus memantau kondisi ekonomi Iran yang semakin memburuk. “Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang,” tambahnya.

Kondisi Ekonomi Iran yang Memprihatinkan

Trump berpendapat bahwa situasi keuangan Iran sangat buruk, sehingga negara tersebut kesulitan untuk membayar gaji para tentara. Menurutnya, blokade laut yang diterapkan oleh AS telah memperparah tekanan terhadap pemerintah Iran dan memperburuk krisis ekonomi yang sedang dihadapi.

Ia juga menyatakan bahwa dampak ekonomi dari konflik ini terhadap masyarakat Amerika telah berkurang, seiring dengan turunnya harga minyak yang kini berada sedikit di atas 75 dolar AS per barel. “Ini akan berakhir dengan baik. Selalu berakhir dengan baik. Ini seperti permainan catur,” kata Trump mengenai konfrontasinya dengan Teheran.

Perundingan yang Terhenti

Pada 18 Juni, Washington dan Teheran telah menandatangani sebuah perjanjian kerangka dan memulai perundingan menuju kesepakatan final. Namun, pembicaraan tersebut terhenti karena perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Ketegangan kembali meningkat bulan lalu ketika Amerika Serikat melancarkan serangan di wilayah Iran. Sebagai respons, Teheran menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Artikel Terkait